PENDIDIKAN
TEOLOGI KATEKUMENAT
A.
TUJUAN KATEKESE MEMILIKI 3 DIMENSI
1.
Dimensi Pastoral
§ Pertumbuhan iman
§ Semakin bertobat
2.
Dimensi Teologis Kristologis
§ Semakin percaya (sehati, sejiwa, serasa, sepikir,
senasib) dengan Yesus Kristus
§ Menghantar kita untuk semakin mengenal dan percaya kepada
Allah Tritunggal
3.
Dimensi Ekklesiologis-Sosial
§ Makin mencintai dan ikut terlibat dalam kehidupan gereja.
§ Mendorong orang untuk terlinbat dalam kehidupan
bermnasyarakat.
B.
KONSILI VATIKAN II (SCAROSANTU CONCILIUM ARTIKEL 64-70)
1.
SC artikel 46
§ Katekumenat pernah ada, kemudiaan mati
§ Konsili Vatikan II berharap supaya ketekumenat dihidupkan
kembali (membuat katekumat yang baru sesuai dengan perkembangan zaman).
§ Ketekumenat menjadi tempat pembinaan yang memadai, dan
ditandai dengan upacara suci.
2.
SC artikel 65
§ Di daerah misi bisa mengunakan tradisi-tradisi setempat
jika cocok dengan nilai kristiani.
3.
SC artikel 66 (Peninjauan kembali upacara baptis)
§ Peninjauaan kembali upacara baptis bayi,
§ Peran orang tua baptis harus memiliki kejelasan terutama
dalam perannya dalam pengembangan iman anak tersebut.
4.
SC artikrl 67
§ Upacara baptis untuk anak-anak disesuaikan dengan
usianya.
5.
SC artikel 68
§ Upacara pembaptisan disesuaikan dengan
kebijakan-kebijakan uskup setempat
§ Tata upacara disusun dengan lebih ringkas, terutama di
daerah misi
§ Dengan melibatkan seorang katekis, kaum beriman atau
diakon.
6.
SC artikel 70
§ Diluar masa paskah, air baptis diberkati dengan upacara
baptis dengan rumus yang singkat.
C.
PENELITIAN TENTANG SEJARAH KATEKUMENAT
§ Tampa Gereja tidak ada ketekumenat, karena inisiasi
Kristen hanya ada dalam, oleh, dan untuk Gereja, juga sebaliknya tidak ada
gereja tidak ada inisiasi.
§ Mengapa dikatakan demikian karena Gereja adalah Bunda
yang senantiasa melahirkan anggota baru.
§ Katekumenat bukan alat, melainkan suatu aspek yang hidup
dari umat Kristen, suatu segi kehidupan Gereja yang sangat diperlukan.
1.
PERAN KEIBUAN GEREJA
§ LG art 14
Mengatakan
bahwa bagi para ketekumenat, Gereja adalah seorang Ibu. Ke-Ibuan Gereja itu di
laksanakan, yaitu adalah 3 hal Iman, Nabi dan Raja.
§ LG art 64
Artinya lewat pembaptisan orang dilahirkan kembali dari
Roh Kudus, dan masuk pada persatuaan dengan Allah. Inisiasi Kristen muncul dari
hakekat inti Gereja, yakni hakikat keibuaan (dikutip dari DKV II).
§ LG art 6
Mengatakan bahwa Gereja adalah Bunda Kita. Gereja
melaksanakan fungsi keibuaan tidak hanya pada melahirkan saja, akan tetapi pada
saat pendidikan, dan sambil memperhatikan seluruh situasi hidup (GE art 3).
§ Keperihatinan Keibuaan gereja harus merangkum semua
orang, baik yang kristen maupun bukan kristen (CD 13).
§ Penetapan seluruh kegiaatan pastoral, khususnya pada katekumenat
dalam kontek Gereja sebagai ibu. Dibagi dalam 3 rumus pokok bahasan.
1.
Gereja pada hakekatnya adalah seorang Ibu. Ia
melaksanakan fungsi keibuannya dalam 3 perutusan yang dipercayakan Kristus
kepadanya.
a. Mat 28: 18-20 Gereja harus meneruskan perintah Kristus
sebagai jalan kebenarn dan hidup. Peran tersebut melalui tugas sebagai seorang
Nabi (meneruskan sabda kebenarn), Iman (sakramen-sakramen), dan Raja
(membimbing anak-anaknya kepada Bapa).
b. Untuk tetap setia kepada hakekatnya sebagai ibu, gereja dengan
sungguh hati mengamlkan tugas tersebut. Gereja harus melaksanakan dengan secara
berkesinambungan dan serentak.
o
Secara
berkesinambungan artinya dengan melalui 3 priode yaitu pewartaan, lalu memasuki
kehidupan dan akhirnya berkembang.
o
Secara serentak
artinya sudah mencapai tingkat perkembangan harus bertobat kepada sabda dan
secara penuh memasuki kehidupan Allah.
2.
Katekumenat adalah salah satu cara dengan mana Gereja
memenuhi peranan Keibuan.
a. Keibuaan Gereja ada sebelum katekumenat
§ Pada tahun 30-180 tidak ada lembaga katekumenat seperti
pada zaman sekarang.
§ Pada waktu itu Gereja mengemban tugas untuk
menginisasikan anggota baru.
b. Katekumenat lahir dari jemaat-jemaat yang hidup
§ Katekumenat lahir dari kehidupan jemaat, dan dihayati sebagai
sesuatu keharusan dalam tugas perutusan Gereja.
§ Pada tahun 180, dan terutama pada abad 3 baru terbentuk
katekumenat yang lebih jelas untuk membina para pentobat secara lebih baik.
§ Pada masa itu, banyak bidaah yang bertobat dan masuk
agama kristen serta adanya penganiyaan.
§ Pada abad 4 & 5, masa tenteram dan masa keluasan
dalam pemerintahan Konstantin terjadinya kemerosotan gairah masa pembinaan
katekumenat.
§ Pada waktu itu, situasi yang demikian dapat memulihkan
keseimbangan dengan mengembangkan masa puasa dan paskah untuk menegaskan
tuntutan2 inisiasi yang serius, sekalipun dengan bentuk yang berbeda.
c. Kata katekumenat sendiri
1.
Pendagogi
katekumenat.
§ Gambaran biblis tentang perjalanan (Origine):
dilukiskan sebagai keluarga bangsa Israel, yang antara Laut Merah (masuk
kekatekumenat) dan Sungai Yordan (Pembaptisan) berjalan bersama sebagai
kelompok, menerima sabda Allah dan berusaha keras untuk mengahayatinya.
§ Gambaran tentang kehamilan (oleh Bapa-Bapa Gereja
abad 4): ketekumen digambarkan sebagai seorang bayi yang dikandung dan
berkembang di dalam Rahum Bunda Gereja sampai dia dapat masuki dunia
pembaptisan.
§ Gambaran calon Prajurit diambil dari masa
pendidikan terutama harus dijalani sebelum mereka disumpah dan maju perang.
2. Jadi, ada 3 gambaran yang dapat dipakai untuk
mengambarkan perjalanan katekumen
1. Tumbuhan:
Katekumenat bagaikan biji, tumbuh tahap demi tahap, dan
akhirnmya menghasilkan buah.
2. Rasul:
Para rasul setelah bertemu dengan Kristus, menanggapi
panggilan, hidup bersama 3 tahun, dan akhirnya menyaksikan kematiaan serta
kebangkitan-Nya dan menikmati kehidupan Roh Kudus.
3. Perjanjian:
Yang dikaitkan dengan kidung agung. Sang jejaka mencari
buah hati. Katekumenat dilihat sebagai masa pertumbuhan sebelum
perkawinan.
3.
Peranan Keibuaan lebih luas dari pada katekumenat.
§ Supaya Gereja benar-benar menjadi ibu, maka Gereja harus
terus menerus mendidik mereka yang telah dilahirkan.
§ Sebagai ibu yang senantiasa muda, Gereja harus selalu
melahirkan melalui keghiatan semua anggotanya.
§ Tugas perutusan Gereja ini harus dilaksanakan serentak
dengan 3 sektor:
1. Penginjilan awal:
Dimana kabar gembira harus diwartakan kepada umat yang
bukan kristen.
2. Katekumenat:
Dimana orang yang bertobat dimasukan kedalam misteri
kristen dan kedalam kehidupan injil
3. Jemaat ekaristis:
Dimana para anggota harus tak henti-hentinya menjemaat,
berkembang dan berlipat ganda.
2.
NASIB KATEKUMENAT SEPANJANG SEJARAH GEREJA
1.
Masa Permulaan
Dari abad 1-5 mengalamai baik puncak kejayaan maupun
kemerosotan katekumenat.
Pada abad 1 dan
2
§ Pendidikan katekumenat dilakukan dengan fleksibel
§ Masa persiapan penerimaan sakramen inisiasi sangat
fleksibel
§ Ada 3 syarat yang harus dipenuhi, diantaranya adalah
1. Syarat khusus adalah iman terhadap Kristus dan pertobatan
hidup.
2. Mengikuti pembinaan yang melibatkan seluruh jemaat.
3. Menerima sakrenam-sakramen inisiasi.
Abad 3
§ Pendidikan katekumenat dilakukan dengan amat serius dan
sungguh-sungguh.
§ Persiapan pembaptisan melalui 2 tahap, diantaranya adalah
1.
Penerimaan kedalam
katekumenat. Syarat pertobatan. Hidup secara Kristen berdasarkan kesaksian
iman.
2.
Pengukuhan calon
baptis. Sayaranya hidup kristen baik berdasarkan kesaksian
Abad 4 dan 5
§ Pada periode ini katekumenat merosot, karena katekumenat
menerima orang-orang yang pertobatannya belum teruji.
§ Sadar akan sesuatu yang terjadi, Gereja bereaksi dengan
mengusulkan seatu pembaharuaan dalam proses pembinaan katekumenat, yakni dengan
menciptakan suatu katekumenat selama sama prapaskah.
2.
Kemunduran Katekumenat
Masa
kemunduran (Abad ke 6 s.d ke 15), dengan ditandai dengan
1. Maraknaya pembaptisan bayi
2. Terjadinya baptis masa di tanah misi
3. Ada baptis masa dengan persiapan minim di tempat-tempat
misi.
3.
Usaha-usaha Misionaris Modern
§ Antara abad ke 16 dan abad ke-20 berkembang gerakan
otentik untuk menemukan kembali katekumenat.
§ Dimana injil Suci diwartakan oleh para misionaris di
situlah semangat bernyala-nyala berusaha memperbaiki persiapan katekumenat.
§ Pemuncakan pada pembaruaan katekumenat terjadi di
berbagai Negara, diantaranya adalah
Abad ke 16
§ Di Amerika Latin:
Upacara pembaptiasn hanya dilakukan 4 kali setahun yaitu
pada hari raya paskah, pentekosta, pesta ST. Agustinus dan Epifani. menuntun
para ketekumenat selama 40 hari, yang meliputu puasa, katekese, pengusiran
setan dan penelitian.
§ Asia dan Amerika :
Dibangunnya panti-panti katekemenat di india, dimana
orang2 bertobat dan mau masuk Kristen berkumpul selama 3 bulan untuk
mempersiapkan pembaptisan.
Abad 17 – 18
§ Munculnya beberapa pembaruaan katekumenat yang terbuka.
§ Usaha membangun katekumenat di Asia sengat penting, tepi
segi luturgis diabaikan.
Abad 19-20
§ Di Aferika usaha pembaruaan katekumenat tersebut berhasil
dan inilah yang dirasakan oleh gereja semesta.
§ Ada 2 unsur penting pada masa ini, diantaranya adalah:
1.
Persiapan
pembaptisan harus dilaksanakan secara bertahap, setiap langkah menandai
perkembangan katekese dan pertobartan.
2.
Persiapan
pembaptisan mengandaikan jangka waktu tertentu untuk meyakinkan suatu inisiasi
yang akan mengarahkan katekumen menjadi orang yang bertekun dalam hidup
Kristen.
4.
Pembaharuan Oleh Konsili
1. Keputusan fundamental dibuat dalam 2 kesempatan
§ Ada dekrit yang memperbaiki upacara pembaptisan bertahap,
ada kejelasan dalam setiap tahap yang disesuaikan dengan tradisi asli Gereja.
§ Konsili
Vatikan II (dekrit tentang Karya Misioner)
1) Tentang tanggungjawab para uskup untuk memperbaharui
katekumenat.
2) Tentang peran keibuan Gereja dalam kegiatan katekumenat.
3) Tentang peran jemaat beriman dalam inisiasi katekumenat,.
4) Tentang pemugaran tatacara inisiasi kristiani.
2.
Garis besar karya
yang harus dilaksanakan telah disesuaikan oleh komisi-komisi setelah berembug
dnegan gereja-gereja
§ Upacara inisiasi katekumenat orang dewasa (IKOD)
3.
Mari kita mulai berkarya
KESIMPULAN
1.
Peran keibuan
kegereja yang mencakup katekumenat, tetapi sekaligus lebih luas dari
katekumenat
2.
Sejarah Gereja yang
menegaskan bagaimana kegiatan katekumenat senantiasa merupakan segi utama dalam
kehidupan Gereja, dan bahwa gereja harus terus menerus menemukan dimensinya
kembali dalam bentuk-bentuk baru.
D.
TENTANG TEOLOGIS
a)
IKOd menyajikan
proses sacramental dan bukan suatu buku upacara. Pada setiap halaman kita
diharapkan untuk menyesuaikan dan adaptasi.
b)
Tuhan mengasihi
kita semua, sejak pertama kita dikandung. Dengan pembaptisan kita menjadi
anggota keluarga Yesus secara sadar. pembaptisan memasukan kita kedalam misteri
kasih Allah.
c)
KV II lebih
memprioritaskan misteri kasih Allah, bukan misteri dosa. Gagasan tradisional:
pembaptisan penting bagi keselamatan. hal yang demikian ditentang dengan
adalanya baptis rindu yang menekankan bahwa iman akan Allah yang penting bukan
pembaptisan.
d)
pandangan umum:
pembaptisan adalah sebagai awal proses keselamatan, Pembaptisan sebagai
tindakan individual, kurang melibatkan umat. Baptis yang sesungguhnya adalah
pembaptisan adalah tahap akhir proses inisiasi bukan jadi langkah awal yang
baru, pembaptisan sebagai tindakan gerejawi dan terjadi dalam lingkup jemaat.
e)
sakramen tindakan
jemaat, bukan individu. dalam hal ini, ditegaskan peran dan tugas jemaat. ada
2 keterlibatan umat dalam baptisan bayi.
memberikan jaminan dan mendorong ikut terlibat dalam pembaptisan.
f)
mensyukuri atas
kasih Allah yang dianugerahkan kepada kita dengan kesadarn penuh akan kasih Allah.
E.
PENDIDIKAN TEOLOGI KATEKUMENAT
1.
Pengantar
§ Katekese menjadi usaha gereja untuk menjadikan murid
Kristus dan untuk membantu manusia percaya bahwa Yesus adalah putra Allah,
supaya dengan iman mereka menemukan kehidupan dalam nama-Nya
§ Kekhasan katekese adalah pada aspek kematangan iman awal
dan mendidik murid sejati Kristus dengan cara pengenalan dengan lebih mendalam
dan sistimatik akan pribadi warga Tuhan kita Yesus Kristus.
§ Lewat katekese orang dihantar kepada perkembangan iman
menuju kematangan.
§ Ada 3 tahap perkembangan iman, diantaranya adalah
1.
Orang mulai
bertobat, menemukan pilihan secara sentral dan mendasar untuk mengalami Kristus
2.
Pilihan fundamental
itu diperkembangkan dalam sikap-sikap iman yang menuju pengetahuan,
afektivitas, dan sikap hidup aktif sehari-hari
3.
Orang beriman hidup
dari sikap imannya menuju kematangan pribadi dalam hidup menggereja.
2.
Teologi Pembaptisan Moderen
1.
Makna Kristologis dan Trinitas
§ Baptisan mempersekutukan kita dengan (hidup dan nasib)
Yesus Kristus, dan pengampunan dosa
§ Pembaptisan juga mempersekutukan kita dengan Allah
Tritunggal , masuh dalam komunitas kasih trinitaris, yaitu dialog kasih antara
Bapa dan Putra yang berlangsung dalam Roh Kudus.
2.
Makna Ekleksiologis
§ Baptisan sebagai pemasukan dan penerimaan seseorang ke dalam
Gereja
§ Sebagai ikatan kesatuan ekumenes, artinya gereja mengakui
bahwa pembaptisan sesuai dengan tradisi para rasul, dan pembaptisan diakui oleh
semua Gereja.
3.
Problema: sejauh mana baptisan perlu dan bagi keselamatan
§ Di satu sisi, pembaptisan itu perlu untuk mencapai
keselamatan, akan tetapi di sisi lain kedatangan Yesus ke dunia sudah
menyelamatakan umat manusa. PB tidak memberikan penjelasan menganai
syarat-syarat orang yang diselamatakan. di satu pihak, keselamatan itu terjadi
dalam diri orang yang bertobat dan beriman kepada Yesus Kristus dan dibaptis.
§ Ada ungkapan bahwa diluar Gereja tidak ada keselamatan.
§ Intinya adalah Para teolog berpendapat bahwa keselamatan
hanya mungkin ada dalam kebersamaan dengan Allah tritungga, dan Gereja dan
sakramen-sakramena adalah fungsinya adalah yang mengentarai. Gereja ditampakan
sebagai sakramen dunia, dan keselamatan tersebut dinampakan dan di laksanakan
dalam Gereja, secara konkrit dirayakannya sakramen-sakramen.
4.
Problema Teologis mengenai baptisan bayi
§ Sejarah: dalam PB tidak pernah secara ekspelisit
memberikan pernyataan mengenai baptis bayi. tapi dalam kenyataannya ada baptis
bayi, pada abad V praktek baptis bayi sudah tersebar.
Argumen Kontra:
1.
Iman urusan pribadi
bukan urusan orang lain
2.
Iman dipahami
sebagai tangapan dan penerimaan prinbadi (Kis 2:14-40)
3.
Iman merupakan
tindakan manusia yang bebas dan bertanggungjawab.
Argumen Pro:
1.
Iman bukan urusan
pribadi saja, karena manusia adalah makhluk social
2.
Model iman tidak
hanya hasil pewartaan atau kotbah, melainkan proses terus menerus
3.
Iman merupakan
anugerah Allah
Suatu Jawaban
Teologis
1.
Penebusan dan
keselamatan itu karunia artinya adalah pengampunan dan penebusan diwartakan
siapa saja, juga kepada bayi. ungkapan keterbukaan itu justru paling Nampak
dalam baptisan bayi.
2.
Iman berarti
bersama orang lain
3.
Iman sebagai
pelaksana bukan peristiwa sekali jadi, melainkan suatu proses pertumbuhan terus
menerus.
3.
BAPTIS MENURUT SEGI LITURGI DAN PASTORAL
Baptis
Dewasa
1.
Sejarah Liturgi Baptis Dewasa
§ Gereja sejak awal menyadari bahwa jalan iman dan hidup
sebagai murid-murid merupakan suatu proses pertumbuhan yang berlangsung lama
dan membutuhkan bentuk struktur
§ Pada akhir abad II terbentuknya model atau tahap
katekumenat.
§ Mereka yang ingin dibaptis dan Gereja harus menjadi
katekumenat.
§ Dalam tradition apostoliknya, Hipolitus melaporkan:
1.
Orang yang ingin
menjadi Kristisni harus melalui masa katekumenat yang berlangsung selama 3
tahun. diberikan katekese dan pelajaran agama yang kemudian suatu upacara doa
dan penumpangan tangan.
2.
Beberapa minggu
sebelum masa paskan menjadi masa intensif. ada tahapan memilik ketekumenat
sebagai orang yang terpilih dan diukut sertakan dalam ibadat sabda dan liturgy.
3.
Prayaan dan
penerimaan sakramen inisiasi dilangsungkan bersama dalam liturgy malam paskah.
4.
Pada masa paskah
warga Gereja yang baru ini menjalani masa mistagogi yakni masa untuk
memperdalam, menetapkan dan menghayati iman akan misteri Kristus dan
membiasakan pada kebiasaan dan tradisi hidup Gereja.
2.
Susunan dan tahapan baptisan
![]() |
Keterangannya
1.
Inisiasi meliputi
suatu proses perkembangan yang berlangsung cukup lama.
2.
Pada umumnya
perkembangan tersebut mengikuti pola umum yang terjadi dalam 4 masa dan 3
tahap.
3.
Tahap ini berupa
upacara liturgis yang menandai peralihan dari satu masa ke masa berikutnya.
Contoh
a)
Masa prakatekumenat
untuk para simpatisan
® Tahap1 :
Upacara pelantikan
menjadi katekumen
b) Masa katekumenat untuk pada katekumen
®
Tahap 2:
Upacara pemilihan
sebagai calon baptis
c) Masa akhir untuk calon baptis
®
Perayaan sakramen
inisiasi
d)
Masa mistagogi
untuk para baptisan baru
Penjelasan
Masing-Masing Masa dan Tahapan
A.
Masa Prakatekumenat (simpatisan)
§ Tujuan:
Menampung para simpatisan, menjernihkan motivasi dan memperkenalkan
Yesus Kristus kepada mereka
§ Sasaran akhir:
Para simpatisan merasa mantap mau menjadi Kristiani dan
menunjukan dalam semangat tobat dan imannya, yang anapak dari tingkah laku yang
sesuai dengan iman kristiani.
§ Masa ini tidak miliki batas waktu, tergantung pada
perkembangan masing-masing.
B. Tahap 1
Upacara pelantikan
§ Menutup masa prakatekumenat dan membuka masa katekumenat
§ Kapan saja boleh dilangsungkan, Mis ibadat dilingkungan
§ Bolah dipimpin oleh asisten iman.
C. Masa
Katekumenat (Katekumen)
§ Menjadi masa pembinaan yang menyeluruh bagi katekumen.
§ Mengikuti pelajaran agama secara intensitif, teratur dan
terarah dan diintegritaskan dalam aneka kegiatan hidup jemaat.
§ Sasaran akhir:
Katekumen benar-benar menampakan semangat iman dan
bertobat secara Kristiani.
§ Selama masa ini, pada calon perlu juga dibiasakan dengan
ibadat-ibadat gereja, seperti doa Rosario dll
§ Pastor paroki menanyakan kesaksian umat dan menguju niat
katekumen, pastor dan pemimpin umat dan penjemain memutuskan apakah sudah layak
ketahap berikutnya.
§ Masa waktu ketentuan tidak tentu, tergantung pada si
katekumen
D. Tahap 2
Upacara pemilihan Calon Baptis
§ Masa ini menutup masa katekumenat dan membuka masa
persiapan akhir
§ waktu ideal:
Awal masa prapaskan.
§ Temapat boleh dilakukan dimana saja. sebainya upacara
dipimpin oleh Pastor, atau asisten imam atau siapa saja yang dipercayakan oleh
pastor paroki.
E. Masa Persiapan
Akhir (calon baptis)
§ Tujuan:
menjadi masa pembinaan bagi calon baptis secara intensif.
diisi dengan beberapa persiapan khusus, diantaranya
§ Bidang katekese:
Memperdalam
makna sakramen yang akan diterima dalam konteks seluruh iman kristiani
§ Bidang liturgy:
Diadakan
upacara penyucian dan penerangan, upacara tobat disini tidak sama dengan
rekonsiliasi.
§ Persiapan akhir sebaiknya diisi dengan rekoleksi ataun
ret-ret sejauh mungkin dipin oleh Pastor.
§ Waktu: sebagainya dilangsungkan pada masa prapaska
F.
Tahap 3: peRayaan sakramen inisiasi
§ Tahap ini merupakan tahap akhir dan puncak dari seluruh
proses inisiasi
§ Diusahakan perayaan sakramen ini meriah dan dihadiri oleh
sebanyak mungkin umat
§ Waktu:
Sebainya malam paskan
§ Soal administrasi:
Nama baptis baru, wali dan nama pimimpin perayaan,
tanggal dan tempat dicatat
G. Masa Mistagogi
untuk para baptisan baru
§ Tujuannya:
Memperdalam dan memantapkan iman baptisan baru bersama
seluruh umat beriman.
§ Pendalaman iman yang diusahakan dalam masa ini berkisar
pada 3 bidang : renungan sabda Allah, perayaan
sakramen-sakramen, dan integritas dalam umat beriman.
§ Masa paskah bisa dijadikan masa mistagogi jika
diterimakan pada masa paskah.
PEMBAHASAN SETELAH UTS
H.
PERAYAAN BAPTIS: Kan 850-860
1.
Ritual yang harus diikuti (kan 850)
§ Kan ini berbicara tentang perayaan baptis yang hendak
diikuti sepaya sah dalam menenrima sakramen baptis
§ Ditegaskan juga baptis dalam keadaan darurat, yang
intinya adalah pencurahan atau pembasuhan dengan air dan sungguh disertai
dengan kata-kata forma yang menjelaskan materi.
§ Keadaan darurat adalah situasi yang tidak memungkinkan
pelaksanaannya upacara penerimaan sacramen baptis secara penuh-lengkap yang
sesuai dengan petunjuk-petunjuk buku liturgy.
§ Contohnya bahaya mati, periode penganiayaan, perselisihan
dengan keluarga mengenai baptisan itu sendiri.
§ Yang bisa memberikan baptisan dalam situasi yang semacam
ini adalah imam atau diakon sekaligus sakramen krisma.
2.
Persiapan Pembaptisan (kan 851)
§ Menyebut orang yang dewasa. Kriteria orang dewasa menurut
kanon ini adalah melewati usia kanak-kanak dan dapat mengunakan akal budi.
§ Kan 97 $ 2, orang yang tergolong kanak-kanak adalah
mereka yang belum berumur 7 tahun penuh dan belum dapat mengunakan akal budi.
§ Tahap-tahap yang perlu dipersiapakan dalam menerima
baptisan baru, diantarannya :
a) Kehendak/maksud serius yang menerima sakramen baptis dari
orang dewasa, yang Nampak dalam usia, yeng menyesuaikan diri dalam iman dan
lingkungan Kristen.
b) manifestasi eksternal dari kehendak ini.
c) penerimaan dalam masa katekumenat dalam Gereja dan
keatifan dalam mengikuti setiap tahap katekumenat.
d) KW berhak untuk menentukan norma-norma particular
mengenai persipan dan penerimaan sakramen
baptis.
§ Yang termasuk dalam golongan bayi adalah semua anak yang
belum berumur 7 tahun penuh dan belum dapat mengunakan akal budi.
§ Baptis harus diberikan kepada orangtua atau wali. dan
dibaptis di gereja orangtua.
§ Dalam penerimaan sakramen baptis ini, orangtua atau wali
harus dipersiapakan, terutama mengenai sakramen baptis dan tanggungjawab mereka
untuk mendidik dan membesarkan anak yang telah dibaptis dalam iman Katolik.
§ Dijelaskan dalam kan 774 $ 2, cara mempersiapakan
orangtua dan wali baptis, seperti memberikan nasihat-nasihat, pastoral, doa
bersama, pertemuaan, dan kunjungan keluarga.
§ Pastor paroki yang pertama-tama bertanggungjawab dalam
mempersiapkan para orangtua dan wali.
§ Dan juga beloh orang yang telah berkompetensi dalam
bidang tersebut.
3.
Pengertian Dewasa dan anak-anak (kan 853)
§ Kan ini dirumuskan berdasarkan prinsip bahwa tata
perayaan baptisan bayi dimaksudkan untuk mereka yang belum mampu menggunakan
akal budi dank arena itu belum mampu memiliki iman yang personal.
§ berdasarkan ini, ritus dalam perayaan ekaristi baptis,
untuk anak-anak dibedakan rumusnya dengan orang dewasa.
4.
Air Baptis (kan 854)
§ Air yang digunakan untuk membaptis adalah air yang telah
diberkati.
§ Air bisa diberkati pada waktu malam paskah atau pada
waktu sebelum baptis berlangsung.
§ Air yang digunakan untuk membaptis harus bersih baik demi
sombolisasi sakremantal yang otentik, mapun karena alasan kesehatan.
5.
Cara membaptis: pembenaman atau pencurahan air baptis
§ kan ini berbicara mengenai bagaimana hendaknya baptis itu
dilakukan.
§ Intinya dengan mengunakan materi (pembenaman/pencucuran
air sungguhan), dan forma (kata-kata trinitas).
6.
Nama Kristen (855)
§ Maksudnya adalah supaya penggunaan nama Kristen jangan
sampai bertantangan dengan rasa perasaan Kristen.
§ Dalam memberikan nama baru, orang tua bertanggungjawab
penuh dalam pemberian nama kepada anak-anaknya.
§ Nama yang baru juga akan memberikan keteladanan hidup,
mengontrol hidup kita dan menempuh hidup baru.
7.
Hari Raya Pembaptisan (kan 856)
§ Waktunya bisa masa pentekosta, malam paskah atau hari
minggu.
§ Tujuannya jika perayaan baptis dilaksanakan pada hari
paskah atau hari minggu adalah untuk menunjukkan unsur paskah dari sakramen
baptis, yakni kenangan akan wafat dan kebangkitan Yesus.
8.
Gereja Tempat Perayaan Baptis (kan 857)
§ Prinsipnya, orang dibaptis di dalam Gereja/tempat doa
§ Orang dewasa di baptis di wilayahnya.
9.
Tempat Baptis lain: selain Gereja (kan 859)
§ Penerimaan sakraman baptis harus dirayakan di Gereja, dan
tidak boleh di rumah pribadi atau di rumah sakit.
§ Jika keadaan darurat, di rumah sakit diperbolehkan.
§ Dilarang di rumah pribadi adalah karena menghindari
adanya penyalahgunaan sakramen baptis juga untuk menunjukan peran komunitas
umat paroki dalam perayaan sakramen baptis.
I.
PELAYAN BAPTIS. KAN 861-863
1.
Pelayan Baptis (Kan 861)
§ Pelayanan sakramen baptis adalah pemimpin perayaan
ekaristi.
§ dalam keadaan darurat, katekis, diakon bisa melayani sakramen
baptis
2.
Hak Untuk Mambaptis (Kan 862)
§ Dalam situasi normal, pastor paroki berhak untuk
membaptis.
3.
Uskup sebagai pelayan baptis (Kan 863)
§ Acuan kan ini pada rumusan dalam roman ritus bahwa
inisiasi orang kristiani dewasa direservasi bagi uskup diosesan.
§ Tugas membaptis juga tidak harus uskup yang
memberikannya, bisa juga para imam.
J.
PARA CALON BAPTIS (KAN 867-871)
1.
Kemampuan untuk dibaptis (Kan 864)
§ Kan ini memberikan prinsip teologis tentang siapa orang
yang bisa dan dapat dibaptis, artinya
§ Setiap dan hanya manusia yang belum dibaptis, manusia
yang masih hidup, bayi dan yang dapat dibaptis.
§ Asalkan belum menerima baptis yang sah.
2.
Kualifikasi Baptis Dewasa (Kan 865)
§ Ada 3 syarat yang harus dipenuhi dalam baptis dewasa,
diantaranya adalah
1) Kepada yang bersangkutan perlu diberikan ajaran mengenai
kebenaran-kebenaran iman dan kewajiban-kewajiban orang Kristen.
2) Yang bersangkutan perlu mengalami masa katekumenat,
melalui mana ia berusaha untuk terlibat dan melibatkan diri dalam kehidupan
Kristiani.
3) Ada dikap tobat tobat yang sejati, khususnya dengan
menyesali dosa-dosanya.
§ Ada 3 syarat dalam
menyembut sakramen baptis dalam bahaya mati, diantaranya
1) Yang bersangkutan memiliki pengetahuan minim mengenai
ajaran-ajaran pokok gereja.
2) Pernah mengungkapkan kehendaknya untuk menerima sakramen
baptis, juga dengan cara yang sangat sederhana dan minim sekalipun
3) Berjanji untuk mengikuti dan memenuhi norma-norma
Kekristenan, dan dengan demikian perlu meninggalkan segala adat dan kebiasaan
yang bertentangan dengan status baru
4) Dalam bahaya mati, calon baptis diperkenankan untuk
menyambut 3 sakramen inisiasi.
3.
Penerimaan Sakramen Inisiasi Kristen (kan 866)
§ Baptis dewasa diperbolehkan untuk menerima sakramen
penguatan dan ekaristi, sejauh tidak berhalangan.
4.
Waktu terbaik untuk membaptis bayi (kan 867)
§ Kan ini memberikan penegasan kepada orangtua untuk cepat
membaptis anaknya, yaitu minggu-minggu pertama, dan ibu yang beru melahirkan
ikut serta berpartisipasi dalam mempersiapkan baptis untuk anaknya.
§ Baptis bayi hendaknya dilaksanakan secepat mungkin tampa
menunda-nunda.
5.
Perayaan Untuk baptis bayi (kan 868)
§ Syarat pembaptisan bayi, adalah
1. Adanya persetujuan dari orangtua yang bersangkutan dalam
membaptis anaknya
2. Ada jaminan dari orangtua dalam mendidik iman anaknya
6.
Baptis bersyarat (kan 869)
§ Paragraph 1. ada 2 syarat situasi dalam memberikan
sakramen baptis secara bersyarat, diantaranya
1. Jika ada keraguaan apakah yang bersangkutan telah
dibaptis atau belum (mis. tidak dicatat dalam buku baptis)
2. Jika ada keraguaan apakah baptis yang diterima itu sah
atau tidak.
§ Paragraph 2: mereka yang telah dibaptis di gereja katolik
atau non katolik tidak bisa dibaptis bersyarat, kecuali demi alasan tertentu
§ Paragraph 3: berisi norma pastoral.
7.
Bayi yang terbuang dan ditemukan (kan 870)
8.
Janin keguguran (kan 871)
K.
WALI BAPTIS (KAN 872-874)
1.
Tanggungjawab para wali baptis (kan 872)
§ Wajib mendampingi dan mempersiapak calon baptis untuk
mempersiapakan diri, supaya mereka sungguh pantas dalam menerima sakramen
inisiasi Kristin secara penuh (pada baptisan dewasa)
§ Wajib memprensetasikan calon baptis kepada pastor agar di
baptis, dan selanjutnya berhak mendampingi supaya yang bersangkutan bertumbuh
dan berkembang di dalam iman Kristen (pada baptisan bayi)
§ Wali baptis tampil
untuk memberikan tentang iman calon baptis untuk mengakui iman Gereja, dalam
masa si bayi dibaptis
§ Dipilih oleh colan baptis dan sekaligus menjadi wakil
komunitas umat beriman untuk memberikan kesaksian tentang iman dan kehidupan
konkrit dari calon.
2.
Jumlah wali baptis (873)
3.
Kulifikasi wali baptis (874)
§ Ditunjuk oleh calon baptis dewasa atau orangtua atau
dalam keadaan khusus oleh pastor.
§ Memiliki kecakapan dan intense untuk melaksanakan
tanggungjawab sebagai wali.
§ Minimal sudah berumur genap 16 tahun. dalam hal ini juga,
uskup deosesan bisa menentukan.
§ Telah menerima sakramen inisiasi Kristen secara penuh dan
hidup sosial dalam semangat kekatolikan.
§ Tidak dalam situasi terkena hokum resmi Gereja atau
khusus interdik
L.
PEMBUKTIAN DAN PENCATATAN BAPTIS KAN 875-878
1.
Bukti baptisan
§ Kan 875: jika tidak ada wali baptis, hendaknya harus ada
saksi baptis.
§ Kan 876: memberikan 2 alternatif, diantaranya:
1.
Pernyataan seorang
saksi yang memang dapat dipercaya.
2.
Pernyataan di bawah
sumpah dari yang bersangkutan.
2.
Pencatatan baptisan dalam buku baptisan
§ Kan 877:
§ Kan 878:
CONTOH SURAT
BAPTIS
![]() |

